Banjarbakula Carbon Stock IS

Integrated Information System ยท BAPPEDA South Kalimantan 2025 ยท FOLU Carbon Inventory

618.4 Mt C Total
5 Regencies/Cities
2025 Data
MH2T 338 tC/yr Offset
๐Ÿ‘ โ€” kunjungan
๐ŸŒ โ€”

🌿 Control Panel

Filters & Data Navigation

🏘️ Region Filter
All Regions
Barito Kuala Peat
Tanah Laut
Banjar Regency
Banjarbaru City
Banjarmasin City
🌱 Ecosystem Filter
All Ecosystems
Natural & Drained Peatland
Dryland Forest
Mangrove
Mineral Soil
📅 Year & Scenario
🗂️ Layer Control
District Boundaries (SVG)
FIRMS Hotspots
Hutan Kota MH2T Offset
📊 Stock Summary

Interactive Carbon Stock Map — Banjarbakula Cluster

D3.js SVG · Actual District Boundaries · BAPPEDA 2025

Carbon Density

Peatland (>257 Mt C)
High Forest (181 Mt C)
Med. Forest (136 Mt C)
Urban/Mixed (26 Mt C)
City (<20 Mt C)
Hotspot HIGH
Hotspot NOMINAL
Hotspot LOW
MH2T Offset Area
SVG D3.js · Click district polygon to view attributes Source: BAPPEDA South Kalimantan 2025

📈 Carbon Data Visualization

Statistics & Distribution — BAPPEDA 2025

📊 Carbon Stock by Regency/City (2025)

Distribution by Regency

Total: 618.4 Mt C (2025)

⚖ Neraca Karbon Banjarbakula

FOLU Carbon Balance · Partial Offset Polygons · NFC Projection 2020–2035

🔥 Total Emisi (2024→2025)
1,229,378 tC
Sumber FOLU Banjarbakula
🌳 Total Rosot (2024→2025)
25,378 tC
Kawasan konservasi (SM/TWA/KSA)
⚠ Neraca Bersih FOLU
−1,203,996 tC
Net emitter — deficit karbon
🌱 Kontribusi Area Offset Parsial (MH2T & lainnya)
Total Area
NFC Tahunan
CO₂e Tahunan
Revenue (USD)
Proporsi offset vs. total emisi FOLU:
Potensi karbon terus berkembang seiring penambahan polygon parsial baru ke dalam sistem.

📋 Metodologi Neraca Karbon

Emisi FOLU: Perubahan stok karbon 2024→2025 berdasarkan inventori BAPPEDA Kalsel.
Rosot konservasi: Net sink dari area konservasi (SM, TWA, KSA/KPA) yang dimonitor.
Area Offset Parsial: Polygon kecil dengan histori tutupan lahan positif dan NFC referensi IPCC Tier 1 / Manuri et al. 2011.
NFC MH2T: 4.0 tC/ha/yr (hutan penanaman perkotaan, tanah mineral), basis baseline 2020.

⏳ Memuat dari server...
Nama AreaPolygonLuas (ha) EkosistemNFC (tC/ha/yr) NFC/thn (tC)Stok (tC)BaselineRegion
Memuat data dari server...
Basis NFC: IPCC 2006 Tier 1 · SNI 7724:2011 · Manuri et al. 2011. Stok karbon: AGB 65 tC/ha + BGB 25% + Serasah 5% (estimasi tegakan 15–20 thn).
BAU (3.0 tC/ha/yr)
253 tC/yr
CM1 — Referensi (4.0 tC/ha/yr)
338 tC/yr
CM2 — Optimis (5.0 tC/ha/yr)
422 tC/yr
Kumulatif NFC Bersih 2020–2035 (tC)
Proyeksi kumulatif karbon tersekuestrasi di area offset parsial Banjarbakula (MH2T = 84.49 ha baseline 2020). NFC rate diasumsikan konstan (model Tier 1). Skenario CM2 mensimulasikan pengelolaan silvikultural intensif.
Apa itu Banjarbakula Carbon Stock IS?
Sistem Informasi Stok Karbon Banjarbakula adalah platform berbasis web yang menyajikan inventori karbon terintegrasi untuk 5 kabupaten/kota di kawasan metropolitan Banjarbakula (Barito Kuala, Tanah Laut, Banjar, Banjarbaru, Banjarmasin). Dikembangkan dalam kerangka proyek ITTO-PD 972/22 dan dikelola bersama BAPPEDA Kalimantan Selatan. Sistem ini menjadi dasar kuantitatif untuk perdagangan karbon, Green Economy, dan DSS (Decision Support System) pembangunan berkelanjutan.
Siapa pengguna utama sistem ini?
Pengguna utama adalah pemerintah daerah Provinsi Kalimantan Selatan: (1) BAPPEDA sebagai perencana pembangunan dan DSS, (2) Dinas Lingkungan Hidup untuk monitoring dan pelaporan karbon, (3) Tim perdagangan karbon provinsi dalam mekanisme VCM dan REDD+, (4) Peneliti dan akademisi (termasuk ULM) yang mengembangkan metode inventori. Selain itu, sistem ini mendukung negosiasi dengan investor karbon internasional.
Apa itu proyek ITTO-PD 972/22?
ITTO-PD 972/22 adalah proyek yang didanai oleh International Tropical Timber Organization (ITTO), lembaga antarpemerintah yang mendorong konservasi dan pengelolaan hutan tropis berkelanjutan. Proyek ini bertujuan mengembangkan sistem informasi stok karbon berbasis GIS untuk mendukung perdagangan karbon dan pembangunan rendah emisi di kawasan Banjarbakula, sekaligus membangun kapasitas pemerintah daerah dalam inventori karbon FOLU.
Apa itu area offset parsial dan mengapa penting?
Area offset parsial adalah polygon kecil dalam kawasan metropolitan yang โ€” meski secara keseluruhan wilayah berstatus net emitter โ€” secara lokal memiliki histori tutupan lahan positif dan Net Carbon Flux (NFC) positif. Penting karena: (1) menjadi kandidat carbon credit yang dapat diperdagangkan, (2) mendiversifikasi portofolio karbon daerah, dan (3) sebagai pembuktian bahwa pembangunan kota masih bisa diiringi dengan serapan karbon nyata. Area-area ini dikelola dan dipantau secara berkelanjutan dalam sistem ini.
Berapa total stok karbon Banjarbakula tahun 2025?
Total stok karbon Banjarbakula 2025 = 618.4 Mt C (juta ton karbon), terdistribusi:
Kabupaten/KotaMt C%
Barito Kuala257.841.7%
Tanah Laut181.129.3%
Banjar136.322.0%
Banjarbaru26.34.3%
Banjarmasin16.92.7%
Dominasi Barito Kuala disebabkan cadangan SoC gambut alami yang sangat besar (estimasi >155 juta ton karbon organik tanah gambut).
Ekosistem mana yang paling banyak menyimpan karbon?
Gambut alami (Natural Peatland) mendominasi dengan 308.3 Mt C, diikuti gambut terdegradasi 213.8 Mt C, AGB (biomassa di atas tanah) 68.3 Mt C, tanah mineral 54.3 Mt C, BGB 13.6 Mt C, dan mangrove 1.46 Mt C. Gambut mendominasi karena akumulasi bahan organik ribuan tahun pada kondisi anaerob โ€” kedalaman 1โ€“10 m menyimpan 200โ€“3.000 tC/ha, jauh lebih tinggi dari hutan tropis daratan (150โ€“250 tC/ha AGB). Ini sebabnya perlindungan lahan gambut menjadi prioritas utama dalam neraca karbon Banjarbakula.
Apa perbedaan AGB, BGB, dan SoC?
AGB (Above-ground Biomass): semua biomassa hidup di atas permukaan tanah โ€” batang, cabang, ranting, daun. Rata-rata hutan tropis: 150โ€“250 tC/ha. BGB (Below-ground Biomass): sistem perakaran hidup. Rasio BGB/AGB (Root-to-Shoot Ratio) untuk hutan tropis โ‰ˆ 0.24 (IPCC 2006 Tier 1). Sistem ini mengasumsikan BGB = 25% AGB. SoC (Soil Organic Carbon): karbon dalam bahan organik tanah. Pada lahan gambut, SoC mendominasi dan bisa mencapai ribuan tC/ha. Ketiga komponen ini dijumlahkan bersama serasah dan kayu mati untuk mendapatkan stok karbon total per satuan luas.
Apa itu FOLU dan LULUCF?
FOLU (Forestry and Other Land Use) = istilah yang digunakan Indonesia dalam konteks NDC dan pelaporan iklim nasional, mencakup emisi dan serapan dari kehutanan dan penggunaan lahan lainnya. LULUCF (Land Use, Land Use Change and Forestry) = istilah UNFCCC/IPCC yang setara. Keduanya mencakup: perubahan tutupan hutan, drainase gambut, restorasi lahan, manajemen hutan produksi, dan penghijauan/reforestasi. Indonesia berkomitmen FOLU Net Sink 2030 โ€” emisi bersih sektor ini harus โ‰ค 0 pada 2030 sesuai Enhanced NDC 2022.
Berapa perubahan stok karbon Banjarbakula 2024-2025?
Inventori 2024โ†’2025 menunjukkan:
Sumber emisi (source): Non-Forest Area โˆ’936,956 tC ยท Forest Mgmt Unit โˆ’201,647 tC ยท Konservasi THR โˆ’89,845 tC ยท KHDTK โˆ’930 tC โ†’ Total: โˆ’1,229,378 tC
Rosot (sink): SM +20,643 tC ยท TWA +2,797 tC ยท KSA/KPA +1,938 tC โ†’ Total: +25,378 tC
Neraca bersih: โˆ’1,203,996 tC/tahun โ€” Banjarbakula adalah net emitter dengan defisit โ‰ˆ 1.2 juta ton karbon per tahun. Non-Forest Area menjadi sumber terbesar (76.2%) akibat konversi lahan untuk pembangunan kawasan perkotaan.
Mengapa kawasan konservasi bisa jadi sumber emisi?
Sebagian kawasan konservasi di Banjarbakula mengalami penurunan stok karbon 2024โ€“2025 akibat: (1) Kebakaran hutan dan lahan (terdeteksi dari hotspot FIRMS), terutama di lahan gambut yang rentan terbakar di musim kering; (2) Encroachment/perambahan di batas kawasan; (3) Bencana alam seperti banjir yang menyebabkan kematian pohon massal. Konservasi THR (Tahura Sultan Adam) dan KHDTK ULM tercatat sebagai sumber emisi kecil di periode ini, menunjukkan tekanan terhadap kawasan lindung di sekitar wilayah perkotaan.
Apa itu NFC (Net Forest Carbon / Net Carbon Flux)?
NFC (Net Forest Carbon atau Net Carbon Flux) adalah fluks karbon bersih antara ekosistem dan atmosfer, dalam satuan tC/ha/tahun. Nilai positif = ekosistem menyerap karbon (rosot/sink); nilai negatif = melepaskan karbon (sumber/source). NFC = Produksi Bersih Ekosistem (NPP) โˆ’ kehilangan karbon (pemanenan, dekomposisi, kebakaran). Untuk hutan penanaman perkotaan pada tanah mineral, referensi IPCC Tier 1 / Manuri et al. 2011 memberikan rentang 3โ€“5 tC/ha/tahun, dengan nilai CM1 (referensi) = 4.0 tC/ha/tahun.
Apa perbedaan skenario BAU, CM1, dan CM2?
BAU (Business as Usual): NFC 3.0 tC/ha/tahun โ€” kondisi tanpa intervensi pengelolaan aktif, hanya pemeliharaan minimal.
CM1 (Conservation Management 1): NFC 4.0 tC/ha/tahun โ€” pengelolaan standar sesuai referensi IPCC 2006 dan Manuri et al. 2011. Ini nilai baseline yang digunakan dalam sistem.
CM2 (Conservation Management 2): NFC 5.0 tC/ha/tahun โ€” pengelolaan silvikultural intensif (pemupukan, pemangkasan, monitoring rutin, pengayaan jenis).
Perbedaan antar skenario mencerminkan potensi tambahan serapan karbon dari intervensi manajemen yang lebih baik. Selisih CM2โ€“BAU = 2.0 tC/ha/tahun ร— 84.49 ha = +169 tC/tahun tambahan serapan jika dikelola optimal.
Berapa estimasi stok karbon dan NFC tahunan MH2T?
MH2T (84.49 ha, 7 polygon, Banjarbaru, baseline 2020):
โ€ข Stok karbon: AGB (65 tC/ha ร— 84.49 ha) = 5,492 tC + BGB (25%) = 1,373 tC + Serasah/kayu mati (5%) = 275 tC โ†’ Total โ‰ˆ 7,140 tC
โ€ข NFC tahunan CM1: 84.49 ร— 4.0 = 337.96 โ‰ˆ 338 tC/tahun
โ€ข COโ‚‚e tahunan: 338 ร— 3.667 = 1,239 tCOโ‚‚e/tahun
โ€ข Kumulatif 2020โ€“2035 (CM1): 338 ร— 15 tahun = 5,070 tC
โ€ข Potensi revenue: USD 6,195โ€“18,585/tahun (harga VCM USD 5โ€“15/tCOโ‚‚e)
Bagaimana cara mengkonversi tC ke tCOโ‚‚e?
Konversi menggunakan faktor rasio berat molekul: COโ‚‚/C = 44/12 = 3.667. Artinya setiap 1 ton karbon (C) yang diserap ekosistem setara dengan 3.667 ton COโ‚‚ yang diambil dari atmosfer. Contoh: MH2T menyerap 338 tC/tahun ร— 3.667 = 1,239 tCOโ‚‚e/tahun. Sebaliknya, untuk menghitung emisi: jika 1 ha lahan gambut melepas 100 tC/ha, emisinya = 100 ร— 3.667 = 367 tCOโ‚‚e/ha. Standar internasional menggunakan tCOโ‚‚e sebagai satuan tunggal dalam perdagangan karbon (VCS, Gold Standard, CDM).
Metode apa yang digunakan dalam inventori karbon Banjarbakula?
Sistem menggunakan pendekatan IPCC 2006 Guidelines for National GHG Inventories, Volume 4: AFOLU yang diadaptasi untuk skala kabupaten/kota:
โ€ข Stock-difference method: selisih stok karbon antar periode (2024โ†’2025)
โ€ข Gain-Loss method: NFC = gains (pertumbuhan) โˆ’ losses (pemanenan, dekomposisi, kebakaran)
Data dasar: peta tutupan lahan multi-temporal (Landsat/Sentinel), plot ukur lapangan (untuk Tier 2), dan nilai default IPCC Tier 1 untuk wilayah tanpa data lapangan. Pengolahan spasial menggunakan GIS (ArcGIS/QGIS) dengan sistem koordinat WGS84 (EPSG:4326).
Apa perbedaan Tier 1, Tier 2, dan Tier 3 IPCC?
Tier 1: menggunakan faktor emisi default global IPCC. Mudah diterapkan, akurasi paling rendah. Contoh: AGB hutan tropis basah = 150 tC/ha (IPCC 2006 Tabel 4.7).
Tier 2: menggunakan faktor emisi nasional/regional yang dikembangkan dari data lapangan lokal. Lebih akurat. Contoh: faktor biomassa hutan Indonesia dari Manuri et al. 2011 atau SNI 7724:2011.
Tier 3: menggunakan model dinamik atau plot ukur intensif. Akurasi tertinggi, biaya dan kapasitas tertinggi. Cocok untuk kawasan prioritas dengan nilai karbon tinggi.
Sistem Banjarbakula menggunakan campuran Tier 1โ€“2: Tier 1 untuk wilayah tanpa data lapangan, Tier 2 untuk kawasan yang sudah diukur ULM/BPTKPDAS.
Referensi ilmiah utama apa yang digunakan sistem ini?
  1. IPCC (2006). Guidelines for National Greenhouse Gas Inventories, Volume 4: Agriculture, Forestry and Other Land Use. IPCC/IGES, Japan.
  2. SNI 7724:2011. Pengukuran dan Penghitungan Cadangan Karbon โ€” Pengukuran Lapangan untuk Penaksiran Cadangan Karbon Hutan. BSN, Jakarta.
  3. Manuri S, Ambar BCM, Prajadinata S (2011). Acuan Penghitungan Serapan Karbon Hutan Tropis Indonesia. Puslitbang Perubahan Iklim dan Kebijakan, Bogor.
  4. Hairiah K & Rahayu S (2007). Pengukuran Karbon Tersimpan di Berbagai Macam Penggunaan Lahan. World Agroforestry Centre, Bogor.
  5. Chave et al. (2014). Improved allometric models to estimate the aboveground biomass of tropical trees. Global Change Biology 20: 3177โ€“3190.
Apa regulasi perdagangan karbon yang berlaku di Indonesia?
  • PP No. 98 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Nilai Ekonomi Karbon (NEC): kerangka hukum utama perdagangan karbon Indonesia, mencakup carbon market, carbon offset, dan pajak karbon.
  • Permen LHK No. 21 Tahun 2022: tata cara penyelenggaraan NEC di sektor kehutanan, termasuk mekanisme REDD+ dan FOLU.
  • Peraturan OJK tentang perdagangan karbon melalui bursa karbon (IDXCarbon, diluncurkan Sept 2023).
  • Enhanced NDC Indonesia 2022: target penurunan emisi 31.89% (unconditional) dan 43.2% (conditional) pada 2030 dengan FOLU Net Sink sebagai komponen utama.
Apa itu REDD+ dan bagaimana relevansinya untuk Banjarbakula?
REDD+ = Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation, plus conservation, sustainable management of forests, and enhancement of forest carbon stocks. Mekanisme internasional di bawah UNFCCC yang memberi insentif finansial untuk mengurangi emisi dari kehutanan. Relevansi untuk Banjarbakula: (1) Non-Forest Area adalah sumber emisi terbesar (โˆ’936,956 tC) โ†’ kandidat proyek REDD+ jika bisa diproteksi; (2) Kawasan konservasi (SM, TWA, KSA) yang berfungsi sebagai sink โ†’ dapat diklaim sebagai carbon credit REDD+; (3) Area offset parsial (MH2T, dll.) โ†’ enhancement of carbon stocks sesuai komponen "plus" REDD+.
Bagaimana Neraca Karbon mendukung Green Economy di Banjarbakula?
Green Economy di Kalimantan Selatan membutuhkan data karbon akurat sebagai fondasi: (1) Tata ruang berbasis karbon โ€” wilayah dengan stok karbon tinggi diprioritaskan sebagai kawasan lindung; (2) Investasi hijau โ€” data neraca karbon menjadi dasar negosiasi dengan investor karbon internasional; (3) Pendapatan asli daerah non-ekstraktif โ€” revenue dari carbon credit mengurangi ketergantungan pada sumber daya alam; (4) Monitoring pembangunan โ€” setiap proyek infrastruktur besar diukur dampak karbonnya menggunakan sistem ini; (5) Laporan iklim daerah โ€” kontribusi Kalsel ke target NDC nasional terdokumentasi secara transparan.
Bagaimana cara menambah area offset parsial baru ke sistem?
  1. Siapkan file GeoJSON area baru dari QGIS/ArcGIS/GPS (koordinat EPSG:4326 atau EPSG:3857 โ€” dikonversi otomatis oleh sistem).
  2. Pastikan GeoJSON memiliki atribut minimal: Ha (luas per polygon), Tipe_ekosistem, NFC_t_ha_thn, Baseline_thn, Region.
  3. Akses SI_BanjarBakula.HTML via URL server (bukan dari laptop/file://).
  4. Buka Neraca Karbon โ†’ tab "Area Offset Parsial" โ†’ klik "Tambah Area Baru".
  5. Isi form: nama, region, nilai NFC (referensi IPCC/data lapangan), ekosistem, tahun baseline.
  6. Upload GeoJSON โ†’ masukkan PIN โ†’ klik Simpan ke Server.
  7. Polygon langsung tampil di peta dan masuk ke perhitungan neraca karbon secara otomatis.
Apa target FOLU Net Sink 2030 Indonesia dan posisi Banjarbakula?
Indonesia berkomitmen dalam Enhanced NDC 2022 untuk mencapai FOLU Net Sink 2030: emisi bersih sektor kehutanan dan penggunaan lahan = 0 atau negatif pada 2030. Artinya seluruh Indonesia harus menyerap lebih banyak karbon dari hutan daripada yang dilepaskan dari deforestasi/degradasi. Posisi Banjarbakula saat ini: net emitter โˆ’1.2 Mt C/tahun โ€” jauh dari target. Implikasi: pemerintah daerah perlu (1) menghentikan konversi lahan gambut dan hutan, (2) memperluas area offset parsial, (3) merestorasi lahan terdegradasi, dan (4) memperkuat perlindungan kawasan konservasi yang saat ini berfungsi sebagai sink (SM, TWA, KSA/KPA).
📚 Referensi Utama
IPCC (2006) AFOLU Guidelines · SNI 7724:2011 · Manuri et al. (2011) · Hairiah & Rahayu (2007) · Chave et al. (2014) · PP No. 98/2021 NEC · Permen LHK No. 21/2022 · Enhanced NDC Indonesia 2022 · ITTO-PD 972/22 Project Documents · BAPPEDA Kalsel 2025

📖 Dokumentasi & Q&A

Sistem Informasi Karbon Banjarbakula · ITTO-PD 972/22

⚖️ Carbon Offset Calculator

Estimate offset potential & revenue — REDD+ · Restoration · Agroforestry

Reducing Deforestation & Forest Degradation (REDD+)

Protected area size

Tropical avg. 150–250 tC/ha

Without project intervention

After REDD+ implementation

VCS standard: 20–30 yrs

Voluntary market: $5–$50

Annual Offset
Total Offset
Annual Revenue
Total Revenue

Peatland & Forest Restoration

Target area

Peat: 3–5, Forest: 6–12

Long-term restoration

Restoration premium

Annual Offset
Total Offset
Annual Revenue
Total Revenue

Agroforestry System

Agroforestry area

Typical: 200–600

Mature fruit: 30–80 kg C

Tree growth cycle

Carbon Stored
CO₂e Offset
Total Revenue
Offset per Ha

📊 GFW Emissions Calculator — South Kalimantan

CO₂ Emission Methodology Analysis from Forest Loss

🔍 Why Are GFW Emissions Lower Than MODIS?

6.6 Mt (GFW) vs 143 Mt (MODIS) — due to definition & coverage differences:

AspectGFW (6.6 Mt CO₂)MODIS (143 Mt CO₂)
DefinitionPermanent forest lossAll detected fire emissions
CoverageDeforestation onlyPeat, farmland, shrubland
DecompositionGradual (50% immediate)Immediate at fire event
Peatland❌ Not included✅ Included (major contributor)

GFW Calculation Formula

Total Emissions = Burned + Non-burned Emissions Burned Emissions = Burn_area x C_density x burn_factor x 3.67 Non-burned = Non-burn_area x C_density x decomp_factor x 3.67

⚠️ Critical Factor: South Kalimantan Peat Emissions

Peatland contributes 녲72% of total FOLU emissions in South Kalimantan. GFW excludes peat decomposition (not classified as forest loss). Drained peatland emission potential: 213.8 Mt C or 򱞄 Mt CO₂e.

GFW Hansen — South Kalimantan

Avg. South Kalimantan forest

Proportion burned vs cleared

Typical: 0.3–0.5

50% released year 1

Total Emissions
Burned Emissions
Non-burned
GFW vs This
MethodEmissionsCoveragePeatlandBest Use
GFW (Hansen)6.6 Mt CO₂/yrForest loss onlyREDD+ reporting
MODIS FIRMS143 Mt CO₂/yrAll fire emissionsFire monitoring
FOLU (IPCC)򱈀 Mt CO₂/yrAll land use changeNDC reporting
This System618.4 Mt C stock5 regenciesStock management

📌 Recommendation for Banjarbakula

Use FOLU methodology (IPCC Tier 2) for comprehensive emission accounting including peatland. GFW suits deforestation monitoring; MODIS for fire detection. This carbon stock system is best used as a planning tool for conservation priority areas.