Sistem pendukung keputusan untuk merancang revitalisasi Kecamatan Pahandut, Palangka Raya, di atas lahan gambut riparian Sungai Kahayan — mengintegrasikan daya dukung lahan, valuasi jasa ekosistem, dan simulasi System Dynamics 2026–2046. Filosofi: bergeser dari eksploitasi menuju adaptasi (living with water).
Pemkot Palangka Raya berencana merevitalisasi Kecamatan Pahandut menjadi Waterfront City — transformasi dari pemukiman padat menjadi kawasan modern terintegrasi untuk estetika dan pertumbuhan ekonomi.
Lokasi berada di atas tanah organosol (gambut) yang labil: daya dukung sangat rendah, sensitivitas drainase tinggi, dan ancaman land subsidence (amblesan) akibat beban infrastruktur beton.
Menilai kemampuan lahan berbasis tanah, hidrologi & kedalaman gambut.
Mengevaluasi daya tampung pencemaran & nilai ekonomi total (TEV) jasa ekosistem.
Model System Dynamics memproyeksikan 20 tahun ke depan dengan umpan balik non‑linier.
Catatan: parameter biofisik spasial pada DSS ini disintesis sebagai data sintetik/placeholder yang merepresentasikan pola gambut riparian Kahayan (gambut menebal menjauhi sungai). Ganti dengan data survei lapangan (sampel tanah, kedalaman gambut, batimetri) untuk hasil definitif.
Metode skoring & overlay berbasis Permen LH No. 17/2009, dengan penekanan khusus pada parameter drainase dan kedalaman gambut. Atur bobot & ambang untuk mencegah land subsidence serta menjaga fungsi hidrologis "spons" alami.
Klik tiap sel untuk melihat rincian skor IKL & rekomendasi. Koridor ±2 km bantaran Sungai Kahayan, Kecamatan Pahandut.
Menentukan ambang batas beban pencemaran (jumlah Rumah Lanting & keramba), serta membuktikan bahwa relokasi warga adalah kerugian ekonomi daerah — bukan sekadar isu sosial.
Model menangkap dua umpan balik yang sering terlewat dalam perencanaan linier: lingkaran Pertumbuhan (pembangunan→PAD→investasi) dan lingkaran Degradasi (betonisasi→amblesan→hilangnya kualitas air & ekonomi lokal).
Paket desain Green‑Blue Infrastructure yang fungsional — bukan sekadar pajangan pariwisata — diturunkan dari skenario terpilih dan hasil zonasi.
Vegetasi riparian asli sebagai penahan abrasi & filter alami pada Zona Merah.
Mengolah limbah domestik agar beban tidak melampaui DTBP Sungai Kahayan.
Mempertahankan mata pencaharian (DUV) dengan kepadatan sesuai daya tampung.
Rumah Lanting sebagai aset budaya hidup (EV), mencegah penggusuran paksa.
Decision Support System sebagai dasar perizinan bangunan berbasis zona hijau.
Pengembangan Indeks Daya Dukung Riparian Tropis yang spesifik untuk sungai Kalimantan.
Perlindungan river culture & peningkatan kualitas hidup tanpa penggusuran paksa.
Kumpulan pertanyaan kunci untuk memahami logika di balik DSS ini — dari paradoks pembangunan di atas gambut, metodologi tiga pilar, hingga cara menafsirkan hasil simulasi. Setiap jawaban menautkan sumbernya pada dokumen disertasi dan diperluas dengan penjelasan konsep agar mudah dipahami.
Pemerintah Kota Palangka Raya berambisi membangun Waterfront City modern di tepi Sungai Kahayan (Kecamatan Pahandut) sebagai etalase ekonomi dan pariwisata. Namun lahan di kawasan riparian itu didominasi tanah organosol (gambut) dan aluvial yang labil — lapisannya dari atas ke bawah: Top Soil → Gambut & Aluvial → Tanah Liat.
Paradoksnya: ambisi membangun infrastruktur padat-beton justru memicu amblesan tanah (land subsidence), hilangnya fungsi spons gambut, dan banjir. Pembangunan konvensional menanam benih kegagalannya sendiri. DSS ini menawarkan jalan keluar berbasis adaptasi, bukan eksploitasi.
Gambut adalah tanah organik yang 85–90% tersusun atas air. Tiga sifat membuatnya berisiko untuk bangunan berat:
Karena itu pembangunan harus mengikuti kemampuan lahan, bukan memaksakan tipologi kota daratan ke atas rawa.
Ini adalah pergeseran paradigma: dari melawan air (menimbun rawa, membangun tanggul beton, mengeringkan gambut) menuju beradaptasi dengan air (bangunan terapung/panggung, ruang yang boleh tergenang berkala, drainase ekologis).
Filosofi ini sejatinya sudah ada dalam kearifan lokal masyarakat sungai Kalimantan — Rumah Lanting (rumah terapung) dan budaya keramba adalah contoh adaptasi turun-temurun. DSS menempatkannya sebagai fondasi desain, bukan sekadar ornamen.
Lanting-Urban adalah tipologi permukiman waterfront yang mengangkat prinsip Rumah Lanting tradisional ke skala dan standar perkotaan modern — struktur apung/panggung adaptif terhadap fluktuasi muka air, dilengkapi sanitasi dan utilitas kota.
Kebaruannya terletak pada integrasi tiga hal yang jarang disatukan: kearifan lokal sungai + infrastruktur Hijau-Biru (Green-Blue) + masyarakat sebagai "Living Museum" yang tetap menjadi pelaku, bukan tersingkir oleh modernisasi.
Ketiganya berurutan: peta menentukan di mana boleh membangun, pengukuran menentukan seberapa banyak, dan prediksi menguji konsekuensi jangka panjang dari pilihan kebijakan.
IKL menjumlahkan skor beberapa faktor pembatas biofisik, mengacu pada Permen LH No. 17/2009:
IKL = Σ (S_lereng + S_erosi + S_kedalaman + S_drainase + S_hujan)
Semakin tinggi skor, semakin besar faktor pembatasnya. Hasilnya direklasifikasi menjadi tiga zona:
Di tab Peta, Anda bisa menggeser bobot kedalaman gambut & drainase dan melihat batas zona berubah seketika.
DTBP mengukur kemampuan Sungai Kahayan menerima beban pencemar (mis. limbah organik/BOD) tanpa melampaui baku mutu:
DTBP = Q × (C_baku − C_aktual) × f
dengan Q = debit sungai, C_baku = konsentrasi baku mutu, C_aktual = konsentrasi terukur, f = faktor konversi. Hasilnya dipakai untuk menetapkan ambang jumlah Rumah Lanting & keramba yang masih aman secara ekologis — agar pengembangan waterfront tidak mencemari sungai melampaui kapasitasnya.
TEV memberi nilai rupiah pada jasa ekosistem riparian agar manfaatnya bisa "diadu" dengan keuntungan pembangunan fisik dalam pengambilan keputusan:
TEV = DUV + IUV + OV + EV
Tab Daya Dukung juga mengestimasi kerugian relokasi bila zona produktif dialihfungsikan — sering kali jauh lebih besar dari yang diasumsikan.
System Dynamics memodelkan sistem sebagai kumpulan stok (cadangan yang menumpuk) dan aliran (laju masuk/keluar) yang saling memengaruhi lewat umpan balik:
Stok(t) = ∫ [Inflow − Outflow] ds + Stok(t₀)
Model ini punya empat stok: Gambut/Lahan, Kualitas Air, Ekonomi, Sosial-Budaya, dengan dua loop utama:
Kebijakan yang Anda atur (slider di tab Simulasi) menentukan loop mana yang dominan.
ISE adalah indeks gabungan (0–100) yang merangkum kesehatan sistem dari empat stok, dengan bobot:
ISE = 0,40 × (Gambut + Air)/2 + 0,30 × Ekonomi + 0,30 × Sosial
Bobot ekologi (0,40) sengaja dibuat dominan karena ekosistem adalah fondasi yang menopang ekonomi & sosial. Makin tinggi ISE, makin berkelanjutan kawasan. Nilai mulai dari 50 (kondisi awal 2026) lalu bergerak naik/turun sesuai kebijakan hingga 2046.
Tekan tombol preset di tab Simulasi untuk memuat masing-masing, lalu bandingkan kurvanya.
Inilah temuan paling penting: pembangunan agresif memang menaikkan stok Ekonomi di awal, tetapi secara bersamaan menurunkan stok Gambut, Air, dan Sosial karena amblesan, pencemaran, dan gentrifikasi.
Karena ekologi diberi bobot besar (0,40) dan loop degradasi mulai bekerja, kenaikan ekonomi "dimakan" oleh kemerosotan lingkungan. Hasilnya ISE mandek di kisaran 50 — kawasan terlihat ramai tetapi rapuh. Ini adalah jebakan pembangunan semu: maju di atas kertas, mundur secara fundamental.
Ya. Pada gambut, pengeringan & amblesan bersifat sebagian ireversibel — setelah lapisan gambut hilang atau memadat permanen, fungsi spons tidak dapat dikembalikan meski pembangunan dihentikan.
Dalam model ini hal itu tercermin dari loop degradasi yang menguat: makin lama dibiarkan (skenario Pesimis), makin sulit kurva ISE dibalikkan. Implikasinya, intervensi dini jauh lebih murah daripada rehabilitasi setelah kolaps.
Lihat penampang melintang (cross-section) di tab Rekomendasi Desain.
Sempadan sungai berfungsi sebagai zona penyangga multifungsi: menahan erosi tepian, menyaring polutan sebelum masuk sungai, menyediakan ruang luapan banjir, dan menjadi koridor ekologis. Lebar 30–50 m mengacu pada ketentuan sempadan sungai dalam regulasi penataan ruang Indonesia.
Di tab Peta, slider lebar sabuk hijau langsung memaksa area dalam radius itu menjadi zona merah (konservasi) — Anda bisa melihat dampaknya pada neraca luas zona secara real-time.
"Living Museum" menempatkan masyarakat sungai bukan sebagai objek yang direlokasi, melainkan sebagai pelaku budaya hidup yang menjadi daya tarik kawasan. Rumah Lanting, keramba, dan aktivitas sehari-hari di sungai dipertahankan dan diintegrasikan ke dalam ruang waterfront.
Ini menjawab ancaman sosial: tanpa pendekatan ini, modernisasi cenderung menghapus river culture dan menggusur warga. Dengan konsep ini, budaya justru menjadi aset ekonomi (wisata) sekaligus penjaga identitas.
Prinsipnya, intensitas pemanfaatan menyesuaikan kemampuan lahan:
Tabel perizinan rinci tersedia di tab Rekomendasi Desain.
Gentrifikasi (tersingkirnya warga asli oleh kenaikan nilai lahan) adalah salah satu ancaman ekonomi-sosial utama. Model menanganinya lewat tuas "Ekonomi Komunitas" di simulasi: makin tinggi, makin kuat stok Sosial.
Secara desain: keramba edu-wisata & Living Museum menjadikan nelayan bagian dari ekonomi baru (bukan korbannya), sementara zonasi melindungi ruang hidup mereka dari alih fungsi total. Skenario Optimis sengaja memasang tuas ini tinggi.
Buka tab Peta Zonasi. Setiap sel grid diwarnai merah/kuning/hijau menurut skor IKL-nya. Gunakan slider untuk:
Panel neraca zona memperbarui luas (hektar) tiap kelas secara seketika menggunakan perhitungan geometri poligon (formula Shoelace).
Di tab Simulasi Dinamik, atur lima tuas kebijakan (pembangunan fisik, LID, sabuk hijau, ekonomi komunitas, pengendalian polusi), atau tekan preset skenario. Dua grafik akan diperbarui:
Diagram lingkar sebab-akibat (CLD) di bawahnya membantu memahami mengapa kurva bergerak demikian.
Belum final. Struktur model, formula, dan kalibrasi skenario mengikuti dokumen disertasi. Namun data biofisik spasial (sebaran & kedalaman gambut, debit, baku mutu air, koordinat poligon) masih bersifat sintetik/placeholder sebagai kerangka kerja.
Untuk penggunaan riil, angka-angka ini perlu diganti dengan hasil survei lapangan: sampel tanah, pemetaan kedalaman gambut, batimetri sungai, dan data kualitas air aktual. DSS ini adalah alat berpikir & perancangan, bukan sumber data resmi.
File ini sepenuhnya mandiri (satu HTML) sehingga bisa langsung dibuka di browser atau diunggah ke server Apache di /var/www/html tanpa instalasi tambahan.
Untuk menyimpan & memuat skenario antar-sesi, DSS bisa disambungkan ke backend PHP (mis. dss_api.php) dengan pola yang sama seperti DSS lain — cukup menambahkan fungsi save/load yang mengirim objek dssParams. Saya bisa bantu menyiapkannya bila diperlukan.